Senin, 17 Maret 2014

"Selfie" Tanda Orang Kurang Percaya Diri

Fenomena Selfie memang menarik untuk diikuti. Tren ini tak hanya menjalar ke pengguna internet dewasa, ABG, atau orang tua, bahkan menjalar ke mereka yang tidak mengenal status dan golongan.


Bahkan, Obama pun lakukan foto Selfie bersama PM Inggris dan PM Denmark. Di dalam negeri, Presiden SBY juga lakukan itu bersama PM Malaysia. Selfie benar-benar menjangkit pengguna internet untuk bertindak narsis.


Menurut sejarah, mengabadikan diri sendiri dengan perangkat elektronik atau dalam bahasa Inggris dinamakan self-portrait atau disingkat selfie dilakukan pertama kalo oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839.

Ketika era kamera polaroid sedang menjadi salah satu tren di tahun 70an, seorang bernama Andy Warhol juga pernah melakukan selfie dan hal tersebut tercatat sebagai selfie kedua dalam sejarah.

Kini, di era teknologi serba maju, perangkat hi-tech beredar di mana-mana sekaligus portable device dengan fitur kamera seperti smartphone, phablet dan tablet menjadi satu hal yang umum, aksi selfie ini amat sering dijumpai.


Lalu, kenapa kebanyakan dari kita, khususnya pengguna media sosial suka memotret diri sendiri dan membaginya ke orang lain? Pertanyaan ini coba dijawab oleh ahli neurosains dari University College London, James Kilner.

Menurut kamus kesehatan, neurosains sendiri adalah studi tentang sistem saraf, termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman, serta kontrol gerakan dan perilaku lainnya.

Mengutip laman BBC, Rabu (11/3/2014), salah satu faktor yang membuat seseorang suka Selfie adalah rasa penasarannya terhadap bentuk wajah diri sendiri dengan berbagai ekspresi berbeda. Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita banyak melihat dan menginterpretasikan wajah serta ekspresi wajah orang lain. Namun demikian, kita jarang melihat wajah sendiri.

Terlebih dengan dukungan perangkat mobile berkamera dan media sosial, fenomena Selfie kian meluas. Bahkan saking seringnya digunakan, sampai-sampai kata Selfie dimasukkan ke dalam kamus bahasa Inggris Oxford pada November 2013.

"Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya," ujar Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media, seperti dikutip oleh Guardian (14/07).

Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai' lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.

Walaupun tidak hanya Hardey yang mengatakan bahwa selfie merupakan bentuk dari ingin diakui atau dapat disebut sebagai tanda kurang percaya terhadap diri sendiri karena banyak peneliti lain yang juga mengatakan hal serupa, namun tidak sedikit orang yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya sekadar ingin tenar dan tidak percaya diri.

Menurut salah seorang wanita bernama Rebecca Brown (23) mengatakan bahwa dia melakukan selfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya.

Terlepas dari pendapat para ahli atau orang-orang yang sering melakukan selfie, bagaimana pendapat Anda dari fenomena selfie ini? Apakah selfie termasuk narsis dan kurang percaya diri ataukah hanya untuk eksplorasi diri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar